KATA PENGANTAR
Puji
dan Syukur marilah kita panjatkan Kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Sehingga kita dapat
berupaya dan berusaha dalam menjalani hidup ini.
Dengan
tersusunnya makalah yang berisi tentang logika
matematika, dengan pembahasan materi yaitu, pernyataan dan nilai kebenaran, pernyataan berkuantor, pernyataan
majemuk : nilai kebenaran dan negasinya, merupakan suatu bahan kajian bagi
kalangan pelajar. Melatih berpikir dan bernalar secara logis dan
kritis serta mengembangkan aktifitas kreatif dalam memecahkan masalah dan
mengkomunikasikan ide atau gagasan adalah tujuan umum pembelajaran matematika
di kampus. Konsep Logika Matematika adalah salah satu kompetensi yang
mencerminkannya. Modul pembelajaran ini dirancang untuk mengarahkan bagaimana
mahasiswa/i belajar menguasai kompetensi Menerapkan Konsep Logika Matematika
secara mandiri, tanpa mengesampingkan kerjasama dalam bekerja kelompok.
Keberhasilan pembelajaran ditandai dengan adanya perubahan perilaku positif
pada diri mahasiswa sesuai dengan standar kompetensi dan tujuan pendidikan.
Informasi tentang Konsep Logika Matematika disajikan secara garis besar tetapi
konseptual. Strategi penyajian modul dirancang agar belajar siswa tidak
terfokus hanya mempelajari satu sumber saja, tapi mahasiswa didorong untuk
melakukan eksplorasi terhadap sumber-sumber belajar lain yang relevan. Melalui
pendekatan ini, diharapkan kompetensi dasar dan kompetensi kunci seperti kemampuan komunikasi, kerjasama dalam tim, penguasaan teknologi informasi, pemecahan
masalah dan pengambilan keputusan dapat terbentuk pada diri mahasiswa/i.
Dengan
segala kerendahan hati, penulis sangat mengharapkan kritik dan sarannya yang
bersifat membangun, agar penulis dapat menyusun makalah lebih baik lagi.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pembahasan
mengenai logika sudah ada sejak lama, bahkan sejak sebelum manusia mengenal
istilah logika itu sendiri. Upaya-upaya telah dilakukan untuk membuat suatu
metode penalaran (logika) yang mangkus dan sangkil. Setelah melalui proses yang
panjang, lahirlah metode logika yang dipakai hingga saat ini. Salah satunya
adalah logika simbolis atau logika matematika. Anehnya, metode tersebut, secara
fundamental, tidak berbeda dengan konsep yang diperkenalkan oleh Aristoteles
sekitar dua ribu tahun yang lalu. Tujuan dari makalah ini sendiri, selain
memenuhi kewajiban membuat tugas, adalah untuk memnuhi rasa ingin tahu dan
ketertarikan Penulis terhadap bab logika, serta mencoba menuangkan informasi
yang didapat ke dalam sebuah tulisan. Metode pembahasan yang Penulis pakai
banyak menggunakan contoh-contoh agar lebih terlihat nyata dan lebih mudah
dipahami. Sumber data dari makalah ini sendiri adalah pengetahuan yang penulis
dapat dari kuliah dan ditambah membaca artikel-artikel dari internet.
B.
Tujuan
Makalah ini disusun dengan maksud
untuk memberikan pengetahuan tentang
pengertian dan pengetahuan tentang Logika Matematika dengan harapan
mahasiswa/i dapat digunakan sebagai salah satu sumber untuk memecahkan masalah-masalah
pada Logika Matematika
DAFTAR ISI
|
Kata Pengantar
....................................................................................................
|
1
|
|
Daftar Isi
..............................................................................................................
|
2
|
|
BAB I. PENDAHULUAN.....................................................................................
A. Latar Belakang ...........................................................................................
B. Maksud Dan
Tujuan....................................................................................
|
3
|
|
BAB II. ISI...................................................................................................
A.
Peryataan Majemuk dan Nilai Kebenarannya ......................................
B. Ingkaran
Dari Pernyataan Berkuantor.....................................................
C.
Ingkaran Atau Negasi ........................................................................
D.
Pengertian Logika dan Pernyataan .....................................................
a)
Pengertian Logika ..................................................................
E.
Pernyataan .......................................................................................
F.
Disjungsi, Konjungsi, Implikasi, Biimplikasi, dan
Negasinya .................
a.
Negasi.......................................................................................
b.
Konjungsi.......................................................................................
c.
Disjungsi.......................................................................................
d.
Implikasi........................................................................................
e.
Biimplikasi.....................................................................................
|
4
|
|
Daftar Pustaka .....................................................................................................
|
17
|
BAB II
a) Pernyataan
Majemuk dan Nilai Kebenarannya
• Pernyataan majemuk adalah pernyataan
yang dibentuk dari beberapa pernyataan tunggal (komponen) yang dirangkai dengan
menggunakan kata hubung logika.
• Di samping pernyataan majemuk sederhana di
atas, seringkali dijumpai pernyataan majemuk yang lebih rumit. Pernyataan
majemuk yang rumit terdiri dari pernyataan p, q, r, .....dan seterusnya,
disertai gabungan operasi ingkaran, disjungsi, konjungsi, implikasi, dan
biimplikasi.
• Secara umum dapat disimpulkan “jika
sebuah majemuk terdiri dari n buah pernyataan tunggal yang berlainan, maka
banyak baris pada tabel kebenaran yang memuat nilai kebenaran adalah 2n
• Nilai kebenaran
Benar
atau salah dari suatu pernyataan dapat ditentukan memakai dasar empiris dan dasar
tak empiris.
1)
Dasar
empiris, yaitu
menentukan benar atau salah dari suatu pernyataan berdasarkan fakta yang ada
dan dijumpai sehari-hari.
2)
Dasar tak
empiris, yaitu
menentukan benar atau salah dari sebuah pernyataan dengan memakai bukti atau
perhitungan-perhitungan dalam metematika.
b) Ingkaran
dari pernyataan Berkuantor
•
Kita telah
membahas ingkaran dari sebuah pernyataan. Paling tidak ada 3 hal yang perlu
diingat kembali, yaitu:
1. Ingkaran atau negasi dari pernyataan p,
dilambangkan dengan ~p.
2. Jika p pernyataan yang bernilai benar,
maka ~p bernilai salah.
3. Jika p pernyataan yang bernilai salah,
maka ~p bernilai benar.
c) Ingkaran atau negasi
- Ingkaran atau negasi ialah sebuah pernyataan yang dibentuk dengan membubuhkan kata tidak benar di depan pernyataan semula atau dengan menyisipkan kata tidak atau bukan dalam pernyataan semula.
- Jika p adalah pernyatan yang diketahui, maka ingkaran atau negasi dari p dapat ditulis dengan memakai lambang ~p.
Contoh
:
Tentukan ingkaran dari q:7 adalah
bilangan prima.
Jawab
: ~q: Tidak benar 7 adalah bilangan prima, atau
~q: 7 bukan bilangan prima
PENGERTIAN LOGIKA DAN PERNYATAAN
Kebenaran suatu teori yang
dikemukakan setiap ilmuwan, matematikawan, maupun para ahli merupakan hal yang
sangat menentukan reputasi mereka. Untuk mendapatkan hal tersebut, mereka akan
berusaha untuk mengaitkan suatu fakta atau data dengan fakta atau data lainya
melalui suatu proses penalaran yang sahih atau valid. Sebagai akibatnya, logika
merupakan ilmu yang sangat penting dipelajari. Di dalam mata pelajaran
matematika maupun IPA, aplikasi logika seringkali ditemukan meskipun tidak
secara formal disebut sebagai belajar logika. Bagian ini akan membahas tentang
logika yang didahului dengan pengertian penalaran, diikuti dengan pernyataan,
perakit-perakit pembentuk : negasi, konjungsi, disjungsi, implikasi dan
biimplikasi.
A.
PENGERTIAN LOGIKA
Ada
pernyataan menarik yang dikemukakan mantan Presiden AS Thomas Jefferson
sebagaimana dikutip Copi (1978) berikut ini: “In a republican nation, whoese citizens are to be led by reason and
persuasion and not by force, the art of rasoning becomes of first importance”
(p. Vii). Pernyataan itu menunjukkan pentingnya logika, penalaran dan
argumentasi dipelajari dan dikembangkan disuatu negara sehingga setiap warga
negara akan dapat dipimpin dengan daya nalar (otak) dan bukannnya dengan
kekuatan (otot) saja. Karenanya, seperti yang dikatakan mantan Presiden AS
tadi, seni bernalar merupakan hal yang sangat penting. Di samping itu, Copi
(1978) juga mengutip pendapat Juliana Geran Pilon yang senada dengan yang
diucapkan mantan Presiden As tadi: “civilized
life depends upon the succses of reason in social intercourse, the prevalence
of logic over violence in interpersonal conflict” (p. vii).
Dua
pernyataan di atas telah menunjukkan pentingnya penalaran (reasoning) dalam percaturan politik dan pemerintahan di suatu
negara. Tidak hanya di bidang ketatanegaraan maupun hukum saja kemampuan
bernalar itu menjadi sangat penting dan menentukan. Secara etnologis, logika
berasal dari kata Yunani ‘logos’ yang
berarti kata, ucapan, pikiran secara utuh, atau bisa juga berarti ilmu
pengetahuaan (Kusumah, 1986). Dalam arti luas, logika adalah suatu cabang ilmu
yang mengkaji penurunan-penurunan kesimpulan yang sahih (valid, correct) dan yang tidak sahih (tidak
valid, incorrect). Proses berpikir
yang terjadi di saat menurunkan atau menarik kesimpulan dari
pernyataan-pernyataan yang diketahui benar atau dianggap benar itu sering juga
disebut dengan penalaran (reasoning).
B.
PERNYATAAN
Pernyataan
adalah kalimat yang hanya benar saja atau salah saja, tetapi dapat sekaligus
benar dan salah.
Contoh : a. 4 adalah bilangan genap
b.
Besi
adalah benda padat
Lambang
dan nilai kebenaran suatu pernyataan.
·
Suatu
pernyataan biasanya dilambangkan dengan memakai huruf kecil, seperti a, b, c,
d, ........., p, q, r, s, .........dan seterusnya.
·
Benar
atau salah dari suatu pernyataan dapat ditentukan memakai dasar empiris dan
dasar tak-empiris.
Dimulai sejak ia masih kecil, setiap
manusia, sedikit demi sedikit melengkapi perbendaharaan kata-katanya. Di saat
berkomunikasi, seseorang harus menyusun kata-kata yang dimilikinya menjadi
suatu kalimat yang memiliki arti atau bermakna, Kalimat adalah susunan
kata-kata yang memiliki arti yang dapat berupa pernyataan (“Pintu itu tertutup.”), pernyataan (“Apakah pintu itu tertutup?”), perintah (“Tutup pintu itu!”) ataupun permintaan (“Tolong pintunya ditutup.”). Dari empat macam kalimat
tersebut, hanya pernyataan saja yang memiliki nilai benar atau salah, tetapi
tidak sekaligus benar atau salah. Meskipun para ilmuwan, matematikawan ataupun
ahli-ahli lainnya sering menggunakan beberapa macam kalimat tersebut dalam
kehidupan sehari-harinya, namun hanya pernyataan saja yang menjadi perhatiaan
mereka dalam mengembangkan ilmunya.
Setiap ilmuwan, matematikawan, ataupun
ahli-ahli lainnya akan berusaha untuk menghasilkan suatu pernyataan atau teori
yang benar. Suatu pernyataan (termasuk teori) tidak akan mengahasilkan suatu
pernyataan atau teori yang benar. Karenanya, pembicaraan mengenai benar
tidaknya suatu kalimat yang memuat suatu teori telah menjadi pembicaraan dan
perdebatan para ahli filsafat dan logika sejak dahulu kala. Beberapa nama yang
patut diperhitungkan karena telah berjasa untuk kita adalah Plato (427-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), Charles
S Peirce (1839-1914) dan Bertrand
Russell (1872-1970). Paparan berikut akan mebicarakan tentang kebenaran,
dalam arti, bilamana suatu pernyataan yang dimuat di dalam suatu kalimat
disebut benar dan bilamana disebut salah. Untuk menjelaskan tentang kriteria
kebenaran ini diperhatikan dua kalimat berikut:
a.
Semua
manusia akan mati.
b.
Jumlah
besar sudut suatu segitiga adalah 180º.
Pertanyaannya, dari dua kalimat
tersebut, kalimat manakah yang bernilai benar dan manakah yang bernilai benar
atau salah, dan bilamana suatu kalimat dikategorikan sebagai kalaimat yang
bernilai benar atau salah. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Suriasumantri
(1988) menyatakan bahwa ada tiga teori yang berkait dengan kriteria kebenaran
ini, yaitu: teori korespondensi, teori koherensi, dan teori pragmatis. Namun
sebagian buku hanya membicarakan dua teori saja, yaitu teori korespondensi dan
teori koherensi sehingga pembicaraan kita hanya berkait dengan dua teori
tersebut.
1.
Teori Korespondensi
Teori
korespondensi (the correspondence theory
of truth) menunjukkan bahwa suatu kalimat akan bernilai benar jika hal-hal
yang terkandung didalam pernyataan tersebut sesuai atau cocok dengan keadaan
yang sesungguhnya. Contohnya, “Surabaya adalah ibukota Propinsi Jawa Timur”
merupakan suatu pernyataan yang bernilai benar karena kenyataannya memang
demikian, yaitu
Surabaya memang benar merupakan
ibukota Propinsi Jawa Timur. Namun pernyataan “Tokyo adalah Ibukota Singapura”,
menurut teori ini akan bernilai salah karena hal-hal yang terkandung didalam
pernyataan itu tidak sesuai dengan kenyataannya.
Teori-teori Ilmu Pengetahuaan Alam
banyak didasarkan pada teori korespondensi ini. Dengan demikian jelaslah bahwa
teori-teori atau pernyataan-pernyataan Ilmu Pengetahuan Alam akan dinilai benar
jika pernyataan itu melaporkan, mendeskripsikan, atau menyimpulkan kenyataan
atau fakta yang sebenarnya. Sedangkan Matematika yang tidak hanya mendasarkan
pada kenyataan atau fakta semat-mata namun mendasarkan pada rasio dan aksioma
telah melahirkan teori koherensi yang akan dibahas pada bagian berikut ini.
2.
Teori Koherensi
Teori koherensi menyatakan bahwa suatu kalimat akan bernilai benar jika pernyataan
yang terkandung di dalam kalimat itu bersifat
koheran, konsisten, atau tidak bertentangan dengan
pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contohnya, pengetahuan
Aljabar telah didasarkan pada pernyataan pangkal yang dianggap benar.
Pernyataan yang dianggap benar itu disebut aksioma atau postulat.
Vance (19..) menyatakan ada enam aksioma yang berkait dengan
bilangan real a, b, dan c terhadap operasi penjumlahan (+) dan perkalian (.)
berlaku sifat:
1) Tertutup, a + b ϵ R dan a.b ϵ
R.
2) Asosiatif, a + (b + c) = (a + b) + c
dan a. (b . c) = (a . b) . c
3) Komutatif, a + b = b + a dan a.b =
b.a
4) Distributif, a.(b+c) = a.b + a.c dan
(b + c).a = b.a + c.a
5) Identitas, a + 0 = 0 + a = a dan a.1
= 1 . a = a
6) Invers, a + ( ̶
a) = ( ̶ a) + a = 0 dan a. 1 = 1 . a = 1
a a
Berdasar
enam aksioma itu, teorema seperti -b +
(a+b) = a dapat dibuktikan dengan cara berikut :
|
̶ b + (a + b)
|
=
|
̶ b + (b + a)
|
Aks 3
|
-
|
Komutatif
|
|
|
=
|
( ̶ b + b) + a
|
Aks 2
|
-
|
Asosiatif
|
||
|
=
|
0 + a
|
Aks 6
|
-
|
Invers
|
||
|
=
|
A
|
Aks 5
|
-
|
Identitas
|
Demikian
juga pernyataan bahwa jumlah sudut – sudut suatu segi-n adalah : (n – 2) x 180º akan bernilai benar karena konsisten dengan aksioma yang sudah disepakati
kebenarannya dan konsisten juga dengan dalil atau teorema sebelumnya yang sudah
terbukti. Dengan demikian jelaslah bahwa bangunan matematika didasarkan pada
rasio semata-mata, kepada aksioma-aksioma yang dianggap benar tadi. Suatu hal
yang sudah jelas benar pun harus ditunjukkan atau dibuktikan kebenarannnya
dengan langkah-langkah yang benar.
Dari
paparan diatas jelaslah bahwa pada dua pernyataan berikut :
a. Semua manusia akan mati.
b. Jumlah besar sudut-sudut suatu
segitiga adalah 180º ;
maka baik pernyataan a) maupun b) akan sama-sama bernilai
benar, namun dengan alasan yang berbeda. Pernyataan a) bernilai benar karena
pernyataan itu melaporkan, mendeskripsikan ataupun menyimpulkan kenyataan atau
fakta yang sebenarnya. Sampai detik ini, belum pernah ada orang yang hidup
kekal dan abadi. Pernyataan a) tersebut akan bernilai salah jika sudah
ditemukan suatu alat atau obat yang sangat canggih sehingga akan ada orang yang
tidak bisa mati lagi. Sedangkan pernyataan b) bernilai benar karena pernyataan
itu konsisten atau koheran ataupun tidak bertentangan dengan aksioma yang sudah
disepakati kebenarannya dan konsisten juga dengan dalil atau teorema sebelumnya
yang sudah terbukti. Itulah sekilas tentang teori korespondensi dan teori
koherensi yang memungkinkan kita untuk dapat menentukan benar tidaknya suatu
pernyataan.
DISJUNGSI, KONJUNGSI, IMPLIKASI,
BIIMPLIKASI DAN NEGASINYA
Adakalanya,
kita dituntut untuk menegasikan atau membuat pernyataan baru yang menunjukkan
pengingkaran atas pernyataan yang ada, dengan menggunakan perakit “bukan” atau
“tidak”. Di samping itu, mereka harus menggabungkan dua pernyataan atau lebih
dengan menggunakan perakit “atau”, “dan”, “atau”, “jika ....maka...”, dan
“.....jika dan hanya jika .....” sehingga terbentuk suatu negasi, konjungsi,
disjungsi, implikasi, dan biimplikasi. Sub bagian ini akan membahas tentang
perakit atau penggandeng tersebut.
1.
PERAKIT/PERANGKAI
Perakit atau perangkai ini sering juga disebut dengan
operasi. Dari satu atau dua pernyataan tunggal dapat diberikan perakit “tidak”,
“dan”, “atau”, jika . . .maka...”, dan “.....jika dan hanya jika .....”
sehingga terbentuk suatu negasi, konjungsi, disjungsi, implikasi, dan biimplikasi.
Sub bagian ini akan membahas tentang perakit atau penggandeng tersebut.
a.
Negasi
Jika
p adalah “Surabaya ibukota Jawa Timur”, maka negasi atau ingkaran dari
pernyataan p tersebut adalah ~p yaitu: “Surabaya bukan ibukota
Jawa Timur.” atau “Tidak benar bahwa Surabaya ibukota Jawa Timur.”.
Dari contoh di atas nampak jelas
bahwa p merupakan pernyataan yang bernilai benar karena Surabaya pada
kenyataannya memang ibukota Jawa Timur, sehingga ~p akan bernilai benar seperti
ditunjukkan oleh tabel kebenaran di bawah ini.
|
P
|
~p
|
|
B
S
|
S
B
|
b.
Konjungsi
v Konjungsi
adalah pernyataan yang dibentuk dari dua pernyataan p dan q yang dirangkai
dengan menggunakan kata hubung dan.
v Konjungsi
pernyataan p dan q ditulis dengan lambang sebagai berikut : p ٨ q dibaca
p dan q.
v p
٨ q benar, jika
p dan q benar.
v p
٨ q salah, jika salah satu p atau q salah
atau p salah dan q salah.
Contohnya, pernyataan Adi berikut :
“Fahmi
makan nasi dan minum kopi.”
Pernyataan
tersebut ekuivalen dengan dua pernyataan tunggal berikut. “Fahmi makan nasi.”
Dan sekaligus “Fahmi minum kopi.”
Dalam hal mana pernyataan Adi di
atas bernilai benar dan dalam hal mana bernilai salah dalam empat kasus
berikut, yaitu: (1) Fahmi memang benar makan nasi dan ia juga minum kopi, (2)
Fahmi makan nasi namun ia tidak minum kopi, (3) Fahmi tidak makan nasi namun ia
minum kopi, dan (4) Fahmi tidak makan nasi dan ia tidak minum kopi :
Pada kasus pertama, Fahmi memang
benar makan nasi dan ia juga minum kopi. Dalam kasus seperti ini, tidaklah
mungkin Anda akan mengatakan pernyataan Adi tedi bernilai salah. Alasannya,
pernyataan Adi tadi sesuai dengan kenyataannya. Pada kasus kedua, Fahmi makan
nasi namun ia tidak minum kopi. Dalam hal ini, tentunya Anda akan menyatakan
bahwa pernyataan majemuk Adi tadi bernilai salah karena meskipun Fahmi sudah
makan nasi namun ia tidak minum kopi sebagaimana yang dinyatakan Adi. Sejalan
dengan itu, pada kasus ketiga, Fahmi tidak makan nasi meskipun ia sudah minum
kopi. Sebagaimana kasus kedua tadi, Anda akan menyatakan bahwa pernyataan
majemuk Adi tadi bernilai salah karena Fahmi tidak makan nasi sebagaimana yang
dinyatakan Adi bahwa Fahmi makan nasi dan minum kopi. Akhirnya, pada kasus
keempat, Fahmi tidak makan nasi dan ia tidak minum kopi. Dalam hal ini Anda
akan menyatakan bahwa pernyataan majemuk Adi tadi bernilai salah karena tidak
ada kesesuaian antara yang dinyatakan dengan kenyataan kebenaran berikut :
|
p
|
Q
|
p
˄ q
|
|
B
B
S
S
|
B
S
B
S
|
B
S
S
S
|
c.
Disjungsi
o
Disjungsi adalah pernyataan yang dibentuk dari dua pernyataan p dan q
yang dirangkai dengan menggunakan kata hubung atau.
o
Disjungsi pernyataan p dan q ditulis
dengan lambang sebagai berikut : p v q.
o
p v q benar, jika salah satu diantara p dan q benar
dan p dan q dua-duanya benar.
o
p v q salah, jika p dan q dua-duanya salah.
Contohnya, pernyataan Adi berikut:
“Fahmi makan nasi atau minum kopi.” Sekarang, bertanyalah kepada diri
anda sendiri, dalam hal mana pernyataan Adi di atas akan bernilai benar dalam empat
kasus berikut, yaitu: (1) Fahmi memang benar makan nasi dan ia juga minum kopi,
(2) Fahmi makan nasi namun ia tidak minum kopi, (3) Fahmi tidak makan nasi
namun ia minum kopi, dan (4) Fahmi tidak makan nasi dan ia tidak minum kopi.
Pada kasus pertama, Fahmi memang
benar makan nasi dan ia juga minum kopi. Dalam kasus seperti ini, tidaklah
mungkin Anda akan mengatakan pernyataan Adi tadi bernilai salah, karena
pernyataan Adi tadi sesuai dengan kenyataannya. Pada kasus kedua, Fahmi makan
nasi namun ia tidak minum kopi. Dalam hal ini, tentunya Anda akan menyatakan
bahwa pernyataan majemuk Adi tadi bernilai benar karena Fahmi sudah benar makan
nasi meskipun ia tidak minum kopi sebagaimana yang dinyatakan Adi. Sedangkan
pada kasus ketiga, Fahmi tidak makan nasi namun ia minum kopi. Sebagaimana
kasus kedua tadi, Anda akan menyatakan bahwa pernyataan majemuk Adi tadi
bernilai benar karena meskipun Fahmi tidak makan nasi namun ia sudah minum kopi
sebagaimana yang dinyatakan Adi. Akhirnya, pada kasus keempat, Fahmi tidak
makan nasi dan ia tidak minum kopi. Dalam hal ini Anda akan menyatakan bahwa
pernyataan majemuk Adi tadi bernilai salah karena tidak ada kesesuaian antara
yang dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya. Ia menyatakan Fahmi makan
nasi atau minum kopi namun kenyataannya, Fahmi tidak melakukan hal itu.
Berdasarkan penjelasan di atas,
dapatlah disimpulkan bahwa suatu disjungsi p ˅ q akan bernilai salah hanya jika
komponen-komponennya, yaitu baik p maupun q, keduanya bernilai salah, yang
selain itu akan bernilai benar sebagaimana pada tabel kebenaran berikut :
|
p
|
Q
|
p ˅ q
|
|
B
B
S
S
|
B
S
B
S
|
B
B
B
S
|
d.
Implikasi
Implikasi adalah pernyataan majemuk
yang disusun dari dua buah pernyataan p da q dalam bentuk jika p maka q.
Implikasi “jika p maka q” dapat ditulis dengan lambang
sebagai berikut : p => q.
Nilai kebenaran implikasi p Þ q dapat ditentukan dengan
menggunakan definisi berikit : p Þ q dinyatakan salah, jika p benar
dan q salah. Dalam kemungkinan yang lainnya p Þ q dinyatakan benar.
Misalkan ada dua pernyataan p dan q. Yang sering menjadi perhatian para
ilmuwan maupun matematikawan adalah menunjukkan atau membuktikan bahwa jika p
berniali benar akan mengakibatkan q bernilai benar juga. Untuk mencapai
keinginannya tersebut, diletakkanlah kata “Jika” sebelum pernyataan pertama
lalu ditekan juga kata “maka” di antara pernyataan pertama dan pernyataan
kedua, sehingga didapatkan suatu pernyataan majemuk yang disebut dengan
implikasi, pernyataan bersyarat, kondisional atau hypotheticial dengan notasi “Þ”
seperti ini: p Þ
q
Notasi di atas dapat dibaca dengan :
1)
Jika p maka q,
2)
q jika p,
3)
p adalah syarat cukup untuk q, atau
4)
q adalah syarat perlu untuk p.
Implikasi p Þ q merupakan pernyataan majemuk yang
paling sulit dipahami. Adi menyatakan pernyataan majemuk berikut ini:
Jika hari ini hujan maka saya (Adi) membawa payung.
Dalam
hal ini dimisalkan:
p:
Hari hujan.
q:
Adi membawa payung.
“dalam hal manakah pernyataan Adi tadi akan bernilai benar
atau salah untuk empat kasus berikut, yaitu: (1) Hari benar-benar hujan dan Adi
benar-benar membawa payung, (2) Hari ini benar-benar hujan namun Adi tidak
membawa payung, (3) Hari tidak hujan namun Adi membawa payung, dan (4) Hari
tidak hujan dan Adi tidak membawa payung.
Pada kasus pertama, hari benar-benar hujan dan Adi
benar-benar membawa payung sebagaimana yang ia nyatakan. Bagaimana mungkin ia
akan dinyatakan berbohong dalam kasus ini? Dengan demikiian jelaslah bahwa
kedua komponen yang sama-sama bernilai benar itu telah menyebabkan pernyataan
majemuk (implikasi) yang dinyatakan Adi tadi akan bernilai benar. Pada kasus
kedua, hari itu benar-benar hujan akan tetapi Adi tidak membawa payung
sebagaimana yang seharusnya ia lakukan seperti yang telah dinyatakannya,
bagaimana mungkin pernyataan Adi tadi akan bernilai benar? Dengan kata lain,
komponen p yang bernilai benar namun tidak diikuti dengan komponen q yang
seharusnya bernilai benar juga, akan menyebabkan pernyataan majemuk (implikasi)
yang dinyatakan Adi tadi akan bernilai salah.
Akhirnya, untuk kasus ketiga dan keempat, dimana hari itu
tidak hujan, tentunya Anda tidak akan menyebut pernyataan majemuk (implikasi)
Adi tersebut sebagai pernyataan yang salah, karena Adi hanyalah menyatakan
bahwa sesuatu akan terjadi yaitu dia akan membawa payung jikalau hari hujan.
Dengan demikian jelaslah bahwa implikasi p Þ q akan bernilai benar seperti
ditunjukkan tabel kenbenaran berikut ini:
|
P
|
q
|
p
Þ q
|
|
B
B
S
S
|
B
S
B
S
|
B
S
B
B
|
e.
Biimplikasi
Biimplikasi atau bikondisional adalah pernyataan majemuk
dari dua pernyataan p dan q yang dinotasikan dengan p Û
q yang bernilai sama dengan (p Þ q) ˄ (q Þ
p) sehingga dapat dibaca: “p jika dan hanya jika q” atau “p bila dan hanya bila
q.” Tabel kebenarannya dari p Û q adalah :
|
P
|
Q
|
p Û q
|
|
B
B
S
S
|
B
S
B
S
|
B
S
S
B
|
Dengan demikian jelaslah bahwa biimplakasi dua pernyataan p
dan q hanya akan bernilai benar jika kedua pernyataan tunggalnya bernilai sama.
Contoh biimplikasi:
1.
Suatu segitiga adalah segitiga
siku-siku jika dan hanya jika luas persegi pada hipotenusanya sama dengan
jumlah luas dari persegi-persegi pada kedua sisi yang lain.
2.
Suatu segitiga adalah segitiga sama
sisi bila dan hanya bila ketiga sisinya sama.
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Dari uraiaan diatas dapat kesimpulan
antara lain pernyataan adalah kalimat yang benar saja
atau salah saja, tetapi tidak dapat sekaligus benar dan salah, sedaangkan benar
salah suatu pernyataan dapat ditentukan memakai dasar empiris dan dasar tak
empiris.
Pernyataan berkuantor terdiri dari
pernyataan berkuantor universal (umum) dan pernyataan berkuantor eksistensial
(khusus). Negasi atau Ingkaran dari sebuah pernyataan,
dapat dibentuk pernyataan baru dengan membubuhkan kata tidak benar di depan pernyataan semula atau bila memungkinkan
dengan menyisipkan kata tidak atau bukan dalam pernyataan semula.
Pernyataan majemuk, nilai kebenaran
dan negasinya, Konjungsi adalah
pernyataan yang dibentuk dari dua pernyataan
p dan q yang dirangkai menggunakan kata penghubung dan. Disjungsi adalah
pernyataan yang dibentuk dari dua
pernyataan p dan q yang dirangkai dengan kata penghubung atau. Implikasi atau
pernyataan bersyarat / kondisional adalah pernyataan majemuk yang disusun dari
dua buah pernyataan p dan q dalam bentuk jika p maka q. Biimplikasi atau implikasi dwiarah
dapat diartikan pernyataan p dan
pernyataan q dapat dirangkai dengan
menggunakan kata hubung “jika dan hanya
jika q” sehingga diperoleh pernyataan baru yang berbentuk “p jika dan hanya jika q”.
SARAN
Demikianlah makalah logika
matematika ini sekali lagi bahwa materi ini kami susun masih belum sempurna,
oleh karena itu kami masih banyak perlu bimbingan dari ibu dosen serta kritik
dan saran dari rekan-rekan sekalian.
DAFTAR PUSTAKA
Kusumah, Y.S. (1986) Logika
Matematika Elementer. Bandung: Tarsito.
Prayitno, E. (1995). Logika
Matematika. Yogyakarta : PPPG Matematika.
Tirta Saputro, Theresia (1992). Pengantar
Dasar Matematika Logika dan Teori Himpunan. Jakarta : Erlangga.
Sartono
Wirodikromo dkk... Matematika Untuk SMU Jilid 1 Sampai 9, Erlangga, Jakarta
1999.
Depdiknas,
2003, Kurikulum Berbasis Kompotensi Untuk Sekolah Menengah Umum ( Smu ),
Jakarta : Depdiknas
TIM PKG
Matematika SMU, Logika Matematika, Suplemen Matematika SMA, Yogyakarta, 1986.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar